Antara Kalibrasi Diri dengan Penjual Pepaya dan Pengemis dalam Berwirausaha
Alhamdulillah tidak terasa kita semua umat muslim dunia telah menjalankan amaliah ramadhan mendekati pertengahan Ramadhan 1447 H / 2026 M. Para cendikiawan, ustadz dan kyai melakukan syiar agama Islam dan menyampaikan secara tertulis maupun secara lisan melalui ceramah-ceramah yang terjadwal pada seluruh mushollah dan masjid di sekitar lingkungan kita masing-masing. Sejak awal ramadhan sampai saat ini kita sering membaca tulisan Rektor UIN Alauddin Mks (Prof.Dr.Hamdan Juhannis). Pada awal ramadhan membahas tentang Kalibrasi Diri. Menurut Prof Hamdan bahwa kalibrasi diri adalah bagaimana melakukan pada diri kita sehingga bisa mengintrospeksi diri dan kembali ke titik nol dalam artian tidak ada dosa pada diri sendiri karena telah diampuni oleh Allah SWT setelah melakukan berbagai amaliah yang dilakukan pada sebulan penuh di bulan Ramadhan. Kalibrasi dalam istilah laboratorium adalah melakukan pembetulan alat yang akan digunakan apakah mempunyai tingkat akurasi yang tinggi dalam melakukan pengukuran. Perlunya memastikan semua faktor yang akan mempengaruhinya dalam melakukan kalibrasi sehingga benar-benar diperoleh hasil kalibrasi yang terpercaya. Jika suatu alat yang dikalibrasi sudah agak sulit dibetulkan skala penunjukan jarumnya maka ketika digunakan yang diperhitungkan berapa selisih dari seharusnya dalam menunjukkan angka nol pada alat tersebut apakah kurang dari nol atau lebih dari nol. Selisih skala dari penunjukan angka nol tersebut menjadi pengurang atau penambah dari data hasil pengukuran ketika alat tersebut digunakan untuk menimbang benda atau bahan kimia. Manusia juga perlu mengkalibrasi diri dari dosa-dosa yang dimiliki terutama pada bulan ramadhan ini dengan melakukan segala amaliah dimana diharapkan dapat menghapus sejumlah dosa yang dilakukan selama 1 tahun penuh yang lalu. Sehingga bisa kembali ke nol dengan mereset sejumlah dosa yang dimiliki. Berbeda dengan tulisannya hari pada hari kedua dengan tema kepercayaan yaitu upaya yang dilakukan bagaimana supaya bisa mengkondisikan diri sehingga dapat saling mempercayai antara dua belah pihak atau beberapa pihak dari suatu pertemanan, persaudaraan atau perjanjian misalnya antara penjual dengan pembeli. Kepercayaan muncul karena sesuatu yang membuat kondisi bagaimana seseorang dapat memahami dari semua kondisi yang ada. Lingkungan yang bersih karena para petugas kebersihan menjadi merasa sadar dan tertanam kepercayaan terhadap ownernya dalam melakukan kegiatan sesuai tugasnya serta kerjasama yang baik dengan pihak yang sering membuang sampah dengan membuangnya di tempat yang disediakan serta para pemangku kepentingan selalu peduli dengan ketersediaan alat yang digunakan dan kesejahteraan oleh para petugas kebersihan sehingga mereka saling membutuhkan yang tertanam dalam bentuk kepercayaan tanpa melalui penjagaan maupun pengawasan yang ketat. Artikel berikutnya tentang sepatu pinjaman. Sepatu pinjaman terkadang ada yang terlalu longgar dan ada pula yang terlalu sempit. Sepatu sempit begitu sangat menyiksa kaki bagi seseorang yang memakainya dan sepatu longgar begitu tidak enaknya dilihat dari seseorang yang memakainya karena kepanjangan dari kaki sehingga karena terlalu kebesaran dan panjang maka biasanya ujung sepatunya dimasukkan karton atau kain. Inti dari artikel ini bahwa kita sebagai umat manusia hendaknya mempunyai sifat kepedulian terhadap orang di sekitar kita terutama sang peminjam sepatu sebaiknya dibelikan saja oleh para dermawan sesuai ukuran dari kakinya sang peminjam sehingga mereka merasa nyaman dalam memakainya seperti apa yang dirasakan oleh orang yang mampu. Intinya orang mampu hendaklah berbagi terutama di Bulan Ramadhan karena di bulan ini dilipatgandakan kebaikan kita. Berbeda dengan tulisan pada hari berikutnya tentang penjual pepaya mengandaikan sebagai hampir mirip dengan pengemis. Terkadang juga sebenarnya untuk tetap menjaga kesetaraan dengan penjual tersebut maka biasanya membeli pepayanya dan duduk bersama di dekat jualan mereka sambil memakan pepaya yang sudah dikupasnya. Bayarnya nanti ditanya setelah makan itu artinya berapapun yang disebut harganya oleh penjual pasti akan dibayar oleh pembeli. Para pembeli juga sudah mengetahui standar harga yang biasanya dalam satu kali makan dari beberapa pepaya yang dibeli. Hal ini terjadi karena adanya kepercayaan antara pembeli dan penjual dan saling ketergantungan antara satu dengan lainnya. Pembeli menginginkan supaya energi tubuhnya tetap fit/sehat ketika selesai berolahraga atau bergerak dan bahkan memperlancar saluran pembuangan tinja maupun zat toksik dalam tubuh serta mengandung vitamin C yang dapat menjaga keseimbangan tubuh serta memiliki zat antioksidan yang berfungsi mengurangi penuaan pada kulit. Penjual juga pandai melihat kondisi di sekitar lingkungan tempat menjualnya. Suatu hari di awal ramadhan mereka sepertinya tidak menjual pepaya tetapi menjual ayam kampung dengan harga lebih di atas dari pepaya dimana keuntungan mereka diharapkan lebih besar ketimbang hanya menjual pepaya. Kebiasaan yang sudah tertanam para penjual mulai dari usaha kecil-kecilan sampai menjadi suatu usaha yang lebih besar tidak lain merupakan hasil dari pengalaman yang begitu lama mereka geluti. Hal ini berbeda dengan para penuntut ilmu dimana mereka dapat mempelajari ilmu wirausaha mulai dari bangku sekolah dasar sampai pada tingkat Perguruan Tinggi. Kemungkinan para penjual pepaya dengan modal sepeda dan jualan pepaya yang terbatas yang hanya diambil dari kebunnya sendiri atau membeli dari para petani pepaya dengan harga lebih murah yang dapat mereka jual ke para pembeli dengan harga yang normal dan tetap memperoleh keuntungan yang dapat digunakan untuk bertahan hidup dan membiayai keluarganya. Berbeda dengan penjual kelas menengah atas, misalnya penjual mobil atau developer perumahan mereka memiliki manajemen yang baik serta umumnya tingkat pendidikannya minimal pernah mengenyang di bangku perkuliahan sehingga sistem penjualannya dalam berwirausaha sedikit lebih keren yang disertai dengan pengalaman yang banyak yang diperoleh secara informal misalnya banyak mengikuti pelatihan-pelatihan atau training terkait pengembangan usahanya. UNM merupakan suatu perguruan tinggi dimana kurikulumnya salah satunya diharapkan semua alumni mempunyai jiwa entrepreneur atau wirausaha sehingga para alumni diharapkan dapat membuka sendiri lapangan kerja baru, sehingga melalui bekal kewirausahaan yang diberikan selama di perkuliahan tentunya dalam berwirausaha sedikit lebih modern dibandingkan para penjual pepaya yang bermodalkan hanya sepeda dan modal usaha yang tidak begitu besar serta ilmu yang terbatas. Begitu pentingnya ilmu dan pengalaman dalam berwirausaha sehingga para pengusaha harus selalu melakukan kalibrasi terhadap alat yang digunakan dalam berwirausaha dan mengikuti kegiatan pelatihan dengan melibatkan orang yang lebih banyak pengalamannya dan sekali-sekali melibatkan para penceramah atau ustadz minimal membantu doa demi kelancaran usahanya sehingga para pembeli akan semakin tertarik dan lebih percaya terhadap usaha yang dijalankan. Semoga tulisan ini bermanfaat dan semoga sukses selalu
Muh.Syahrir Gassa (Dosen Jurusan Kimia FMIPA UNM
2/25/20261 min read
Konten postingan
